FENOMENA SOCIAL CLIMBING DAN KAITANNYA TERHADAP TEORI BOURDIEU
Budaya konsumtif di masyarakat era modern ini telah mencapai ambang batas tidak normal. Mulai dari logis sampai tidak logis, konsumtif dengan kebutuhan dasar, konsumtif atas dasar keinginan belaka dan konsumtif atas dasar mendulang popularitas. Kehidupan mewah telah digandrungi, kepemilikan atas simbol-simbol kekayaan merupakan keharusan, masyarakat berlomba-lomba menunjukkan jati diri. Menunjukkan kekayaan telah menjadi tren baik di kalangan kelas atas maupun kalangan kelas bawah. Konsumsi barang mewah bukan saja hanya dinikmati oleh si pemilik materi berlebih, namun pemilik materi kekurangan pun dengan berbagai cara ingin mendapatkan simbol yang sama.
Sosial climbing atau panjat sosial menjadi sebuah ironi dalam ranah revolusi 4.0 yang mana kehidupan dapat dengan mudah dipamerkan dalam bentuk digital, si kalangan bawah yang ingin terlihat kaya dengan menghalalkan segala cara. Hal ini sudah menjadi rahasia umum di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial. Tak jarang social climbing dilakukan hanya untuk dianggap “ada” oleh masyarakat, masyarakat yang mengagungkan kemewahan dan ketenaran. Ironisnya, hubungan antar-manusia dengan mudahnya dimanipulasi dan dipalsukan.
Teori Bourdieu Tentang Habitus, Arena, Kapital dan Kuasa Simbolik
Habitus
Habitus mengacu pada apa yang dimiliki oleh aktor/agen/pelaku sosial, pertemuan antara habitus dan arena(lingkungan) menghasilkan kapital(modal) yang dapat merupakan kapital sosial, ekonomi dan simbolik. Habitus, arena dan kapital menghasilkan apa yang disebut Bourdieu sebagai kuasa simbolik. Habitus adalah hal yang dimiliki individu dalam bentuk pikirannya, baik perilaku, persepsi, budaya, pengalaman dan pandangan hidup. Habitus merupakan hasil pembelajaran lewat pengasuhan, di lingkungan pendidikan, keluarga dan lingkungan pergaulan. Habitus adalah mindset yang tertanam dalam pemikiran setiap individu.
Arena
Arena berupa ranah atau tempat dimana individu saling ber-relasi menggunakan habitus mereka atau bahkan membentuk habitus baru, arena mempengaruhi habitus individu, individu atau aktor ber-relasi menggunakan habitus.
Kapital
Kapital adalah hubungan antar individu dalam kelompok masyarakat dengan habitusnya di dalam arena akan menghasilkan kapital atau modal yang menjadikan individu naik kelas. Kapital dibedakan menjadi 3, kapital ekonomi, kapital sosial, dan kapital simbolik. Nantinya sosial climbing banyak mengacu pada keinginan tercapainya kapital simbolik di masyarakat. Kapital ekonomi, ketika individu memiliki materi atau dana, maka dalam relasi sosial akan menjadi mudah dan dianggap "ada". Kapital sosial, ketika individu tidak mempunyai materi namun memiliki relasi kuat dengan individu yang memiliki materi. maka dengan mudah individu pertama mendapat materi, misalnya saja meminta pekerjaan kepada pemilik perusahaan yang dikenalnya lalu ia diperkerjakan, lalu ia mendapatkan materi dan hidup dianggap "ada" oleh masyarakat. Kapital simbolik, merupakan simbol bahwa individu tersebut "ada", followers instagram berjumlah jutaan, berjalan dengan menggunakan perhiasan lalu mendapat perhatian masyarakat, sehingga dianggap "ada". Atau dalam ranah lain kapital simbolik bisa berupa sertifikat dan ijasah yang dapat digunakan melamar kerja. atau bahkan nilai raport yang dapat digunakan mendaftar perguruan tinggi.
Kuasa Simbolik
Kuasa simbolik di dalam arena terjadi relasi dan perhelatan oleh individu menggunakan habitusnya, kemudian menghasilkan kapital, yang kuatlah yang menang. Pemenang kapital dalam arena dapat menggiring opini dan standar individu lain, dalam Teori Bourdieu, mempunyai modal/kapital berarti menguasai arena. Arena adalah ruang khusus dalam suatu relasi sosial masyarakat, seperti arena pendidikan, arena bisnis dan arena politik. Kuasa simbolik pada dasarnya adalah perjuangan kelas, individu yang unggul berusaha membentuk perbedaan simbolik di dalam arena. Kelas menengah kebawah terkadang menginginkan simbol-simbol kelas menengah atas karena tidak menginginkan perbedaan simbolis ada. Sanksi sosial, perundungan terhadap individu yang tidak mencapai simbol-simbol eksistensi dalam arena kerap terjadi, dalam konteks gaya hidup, yang kaya terlihat mewah, populer, memakai mobil, berdandan modis, dan makan di restoran mahal, berbeda dengan yang miskin, terlihat sederhana, tidak populer dan makan seadanya. Perjuangan simbolik adalah upaya suatu kelompok untuk mendominasi kelompok lain dalam arena.
Distinction
Distinction adalah upaya mempertahankan kekuasaan dalam arena. Distinction adalah dimana individu yang telah mendapatkan kekuasaan dalam arena berupaya mempertahankan keeksistensiannya, dalam hiruk pikuk perekonomian kelas menengah kebawah dan perekonomian kelas atas, individu yang memiliki perekononian kelas atas akan selalu menunjukkan keberhasilannya atau kekuasaannya yang telah ia dapatkan secara simbolik, Distinction adalah upaya individu mempertahankan simbolnya yang kuat.
Munculnya Social Climber
Social Climbing adalah fenomena dimana individu menginginkan gaya hidup yang lebih tinggi daripada kemampuan sebenarnya, Social climber sendiri adalah seseorang yang berusaha untuk masuk pada kelas sosial, dalam teori Bourdeu disebut arena. Ia ingin masuk ke arena tertentu atau lebih tinggi hanya untuk mendapat pengakuan akan status social yang tinggi tersebut. Social climbing lebih dimaknai negatif oleh masyarakat, karena sebenarnya penggiat social climbing ini hanya berpenampilan mewah, namun bukan orang kaya sesungguhnya. Sebutan social climber muncul dari masyarakat karna individu tertentu mengaku sosialita.
Dalam praktik bersosial, pelaku social climbing ini biasanya terlihat berbeda daripada individu di sekitarnya, terlihat lebih mewah atau memiliki kuasa atas simbol kekayaan. Pelaku social climbing akan memamerkan barang-barang branded-nya. Dalam sosial media, sering mengunggah kebiasaan membeli barang mewah atau nongkrong di tempat mahal.
Cara yang digunakan oleh pelaku social climbing ini untuk mendapatkan fasilitas simbolis setara masyarakat kelas atas, lebih terkesan memaksa, karna kurangnya materi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pelaku social climber akan meminjam materi., meminta lebih banyak dari orangtua atau bahkan menggunakan beasiswa dan bantuan pemerintah khusus masyarakat atau mahasiwa kurang mampu.
Menjadi setara, tidak dianggap rendah adalah sebuah keharusan yang menjadi standar bersosial di masyarakat. Apabila individu tersebut berbeda di dalam arena maka akan mendapat tatapan dan perlakuan berbeda dari lingkungan sekitarnya. Di sisi lain penguasa simbolik selalu menunjukkan kuasanya(melakukan distinction). Saat ini perhelatan antar kelas kerap terjadi, kalangan bawah menginginkan kehidupan seperti halnya yang dirasakan kalangan atas, kalangan atas dengan kekuasaannya memperlihatkan ke-glamor-an hidupnya seakan-akan ia manusia paling bahagia. Di antara sesama kalangan-pun manusia saling menjatuhkan demi mencapai titik keagungan di masyarakat.
Individu kalangan bawah, melihat simbol-simbol kemewahan kalangan atas pemilik kuasa simbolik dalam arena, kemudian menginginkan hal serupa, simbol kekayaan. Lalu membeli barang-barang tidak sesuai kebutuhan, hanya untuk terlihat sama dengan individu kalangan atas, atau bahkan terihat lebih kaya diantara sesama kalangan bawah.
Perubahan Habitus dan Arena.
Ketika imdividu dari kalangan bawah masuk ke lingkungan sosial kalangan atas yang tanpa disadari menjadikannya berbeda dan merasa rendah diri, di lain sisi kalangan atas selalu menunjukkan kekuasaannya akan kemewahan dan keagungan diri. Si kalangan bawah ini, supaya dianggap ada oleh lingkungannya, kemudian ia mengubah diri, menjadibmewah versinya.
Sebagai contoh, Mahasiswa daerah yang biasanya sederhana mengikuti perkuliahan di kota besar yang mayoritas masyarakatnya kelas atas, mahasiswa daerah ini merupakan individu dalam ekonomi kelas menengah kebawah atau bahkan penerima dana bantuan pemerintah, perubahan habitus dan arena menjadikannya menggunakan dana kuliahnya atau bahkan bantuan pemerintah tersebut untuk mendongkrak simbol-simbolnya agar dianggap ada dalam arena sosial antara mahasiswa urban, tak jarang pergi menonton konser musik artis terkenal, tak lupa, mengupload di sosial media miliknya, demi mendongkrak popularitas dan supaya dianggap tak berbeda atau bahkan dianggap lebih berkuasa oleh individu lain di dalam arena. Dengan adanya fenomena ini, ia hanya memperjuangkan simbol-simbol kalangan atas, habitusnya berubah, dari yang merupakan masyarakat daerah pemegang simbol-simbol kesederhanaan, menjadi habitus masyarakat urban, yang mana menjadikannya mengubah simbol-simbol dalam dirinya, mindset memiliki barang bermerek adalah barang yang bagus, menjadikan social climber juga ingin memilikinya, mindset pergi ke konser adalah berarti mampu dan memiliki kuasa, iapun ingin menunjukkannya. Kuasa simbolik dimiliki individu dalam kelas yang berbeda ini, menjadikan suatu individu lain merasakan perbedaan, lalu ia merubahnya dan menjadi sama.
Media Sosial, Alat Mengumumkan Simbol Kekayaan yang Dimiliki Pelaku Social Climbing
Menerima informasi dari sosial media, berakibat pada berubahnya habitus pengguna sosial media. Dalam ranah sosial media, individu menerima dan meniru, menganggap bahwa followers dan kehidupan pemilik kuasa simbolik dalam sosial media adalah wujud kebahagiaan manusia. Tak mau kalah, pelaku social climbing menggunakan followers-nya dan akun media sosialnya untuk mengumumkan kekayaannya. Pelaku social climbing kerap mengunggah kesibukannya di sosial media miliknya, hanya untuk mendulang pengakuan yang malah terkadang menjatuhkan harga dirinya sendiri.
KESIMPULAN
Individu atau aktor yang mengalamii perubahan habitus dan arena yang baru, yaitu habitus dan arena kelas atas, menjadikan individu jenis ini ingin memiliki status yang sama, dengan simbol-simbol kalangan atas-nya ia berusaha menunjukkan jati diri. Dengan berbagai cara, pelaku social climbing mendapatkan fasilitas-fasilitas simbolis yang syarat akan arti keagungan dan popularitas. Budaya konsumtif menjadi hal yang general dalam budaya, seperti sudah menyatu. Di lain sisi kalangan atas selalu ingin terlihat berbeda dan menciptakan benteng dengan kalangan bawah berupa simbol-simbol kekayaan yang telah membudaya. Si kaya selalu ingin melalukan distinction, mempertahankan hakikatnya sebagai kalangan atas dan tetap adanya benteng antara kalangan atas dan bawah.
DAFTAR PUSTAKA
Mahyuddin. 2017. SOCIAL CLIMBER DAN BUDAYA PAMER: PARADOKS GAYA HIDUP MASYARAKAT KONTEMPORER. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner 2(2) 119-132.
Okta Ayu Wandira. 2019. INGIN TERLIHAT KAYA: KAJIAN SOCIAL CLIMBING DAN PERUBAHAN GAYA HIDUP PADA ANAK KOST DI BANDAR LAMPUNG [Skripsi]. Bandar Lampung (ID): Universitas Lampung.
Mangihut Siregar. 2006. “Teori Gado-gado" Pierre-Felix Bourdieu Pierre-Felix Bourdieu Universitas Udayana. Jurnal Studi Kultural 1(l2) 80-82.
Anindya Liani. 2015. Fenomena Social Climber.
https://www.kompasiana.com/anindyaliani/54f4548b745513992b6c8aca/fenomena-social-climber (akses 10 mei 2020)
Wawan E. Kuswandoro. 2016. Pemikiran Pierre Bourdieu Dalam Memahami Realitas Sosial. https://wkuswandoro.wordpress.com/2016/01/31/pemikiran-pierre-bourdieu-dalam-memahami-realitas-sosial/
Mahyuddin. 2017. SOCIAL CLIMBER DAN BUDAYA PAMER: PARADOKS GAYA HIDUP MASYARAKAT KONTEMPORER. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner 2(2) 119-132.
Okta Ayu Wandira. 2019. INGIN TERLIHAT KAYA: KAJIAN SOCIAL CLIMBING DAN PERUBAHAN GAYA HIDUP PADA ANAK KOST DI BANDAR LAMPUNG [Skripsi]. Bandar Lampung (ID): Universitas Lampung.
Mangihut Siregar. 2006. “Teori Gado-gado" Pierre-Felix Bourdieu Pierre-Felix Bourdieu Universitas Udayana. Jurnal Studi Kultural 1(l2) 80-82.
Anindya Liani. 2015. Fenomena Social Climber.
https://www.kompasiana.com/anindyaliani/54f4548b745513992b6c8aca/fenomena-social-climber (akses 10 mei 2020)
Wawan E. Kuswandoro. 2016. Pemikiran Pierre Bourdieu Dalam Memahami Realitas Sosial. https://wkuswandoro.wordpress.com/2016/01/31/pemikiran-pierre-bourdieu-dalam-memahami-realitas-sosial/

Comments
Post a Comment